Lucky Theory To Reach Your Success

by SuccessForUs | 7:26 PM in | comments (1)

By: Adisetiawan, Budi

Sering kali dalam kehidupan kita muncul istilah beruntung atau tidak beruntung. Kita pasti mengenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus, ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek di Amerika bernama asli Gladstone ini.

betapa enaknya hidup si Untung, pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal, jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah si Untung, jika anda ingin selalu beruntung seperti si Untung, Don’t Worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya. Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang-orang beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu beruntung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang terkesan main-main, bagaimana mungkin keberuntungan diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada kedua kelompok tadi. Orang-orang dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho koq bisa gitu? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakan tulisan yang tidak kecil berbunyi ”berhentilah menghitung sekarang! Ada 43 gambar di koran ini”. kelompok sial melewatkan tulisan ini ketika asik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lagi yang bunyinya”berhentilah menghitung sekarang dan bilang ke peneliti anda menemukan ini, dan menangkan $250!” lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar-benar sial. Singkatnya dari penelitian yang diklaimnya ”scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial.

1. Sikap terhadap peluang Orang beruntung ternyata memang lebih terbuaka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yang beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakanjaringan-jaringan sosial baru. Orang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru. Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permatanya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria disebelahnya: ”Mr. Buffet!” hanya kejadian sekilas yang memungkinkan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzberg berpikir lain, ia berpikir jika orang yang disebelahnya ternyata adalah Waren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan permatanya. Maka Helzberg segera menyapa pria disebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Waren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Waren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan. Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan ”hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision pada umumnya dari ”good feeling”. Yang barangkali sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Makin sering digunakan, intuisi kita juga semakin tajam. Banyak teman saya yang bertanya, ”mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba-tiba ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba-tiba mendengar suara yang tidak ketahuan sumbernya, bisa-bisa saya jatuh pingsan. Karena ini subjektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya : - isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. ”Gue kok tiba-tiba deg-degan ya, mau dapat rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat-isyarat tertentu yang harus anda maknakan. Misalnya anda kok tiba-tiba meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba-tiba meriang lagi. - Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja dikantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain. - Isyarat dari luar. ”Follow the omen” demikian kalau kata Paulo Coelhodi buku the Alchemist. Baca ”isyarat-isyarat” dari luar yang datang saja tiba-tiba di TV saya kok merasa sering melihat iklan suatu perusahaan tertentu, kemudian ketemu teman kok membicarakan perusahaan itu lagi, di jalan melihat iklan perusahaan tadi. Belakangan perusahaan tadi ternyata menjadi klien saya. Jadi kalau akhir-akhir ini anda sering berpapasan dengan Mercedez S Class dua pintu, barangkali itu suatu pertanda.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang Orang yang beruntung ternyata selalu GE-ER terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke Bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umumnya adalah: ”wah sial bener ada ditengah-tengah perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung misalnya adalh: ”untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yang beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah keberuntungan Ada baiknya mengintip sedikit, latihan-latihan apa saja yang diberikan Luck School. Salah satu yang menonjol dari orang sial adalah betapa mereka sering mengabaikan hal-hal yang positif disekitar mereka. Misalnya salah satu pasien Prof Wiseman, adalah seorang wanita singel parent, yang sangat sial. Ketika diminta menceritakan hidupnya akan segera nyerocos menceritakan setiap detil kesialannya. Betapa sulitnya memperoleh pasangan, sudah bertemu pria yang cocok tapi si pria jatuh dari motor, dilain kesempatan si pria jatuh dan patah hidungnya, sudah hampir menikah, gerejanya terbakar, dan sebagainya. Pokoknya benar-benar sial. Padahal setiap interview, si wanita tersebut datang membawa 2 orang anaknya yang sangat lucu dan sehat. Sebagian besar dari kita akan merasa sangat beruntung memeiliki 2 anak tadi. Tapi tidak bagi si wanita sial tadi. Karena 2 anak lucu tadi tidak ada dalam pikiran si wanita, yang otaknya sudah penuh dengan ”kesialan”. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang-orang semacam itu adalah dengan membuat ”Lucky Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, wanita tadi harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yang mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, semakin mereka akan sadari betapa mereka beruntung. Dan sesuai dengan prinsip ”Law Of Attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi Lucky Event yang datang menghampiri keseharian hidup mereka.

Original Source: Unknown
Selengkapnya

Giving and Receiving Feedback

by SuccessForUs | 6:57 PM in | comments (1)

By: Adisetiawan, Budi

Dalam berkomunikasi, tugas yang paling sulit adalah memberi dan menerima kritik. Kritik sering membuat kita sakit hati dan tidak berdaya. Kita menjadi patah arang dan rendah diri. Sebaliknya, kita juga sering takut melempar kritik karena khawatir yang dikritik akan tersinggung, marah-marah bahkan memusuhi kita sehingga berdampak terhadap berkurangnya kualitas kita dalam berinteraksi dengan sesama.
Namun sebenarnya kritik adalah senjata yang ampuh untuk memperbaiki diri. Apabila ditangani dengan baik, kritik membuat kita tahu kelemahan dan kekuatan kita. Ini dapat menjadi pemicu untuk memperbaiki diri. Demikian pula, memberi kritik dengan baik, akan membantu orang lain memperbaiki dirinya,yang juga akan memperbaiki hubungan kita dengan orang tersebut. Dalam berorganisasi, apabila dikelola dengan baik, kritik bisa menjadi alat untuk memperbaiki kinerja. Memang akan selalu menemukan kesulitan untuk bersifat tegas dalam menghadapi kritik. Demikian pula tidak mudah untuk melontarkan kritik secara adil dan santun.

Apa Yang Dimaksud Dengan Kritik? Kita sering memandang kritik sebagai sesuatu yang seluruhnya negatif. Padahal, kritik bisa disampaikan sebagai ”seni mengevaluasi atau menganalisis secara tepat, dengan menggunakan pengetahuan...”. oleh karena itu, kritik jika dipandang sebagai peluang untuk memperluas pemahaman, sering bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk mencapai hasil positif. Bahkan jika disampaikan secara tepat, kritik bisa menjadi umpan balik yang konstruktif.

Mengapa Kritik Sulit Ditangani? Kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Jika kita bisa memahami dan mengunakannya, kritik merupakan alat pemberdayaan untuk berkomunikasi secara lebih terbuka dan memperbaiki banyak segi kehidupan kita. Salah satu alasan mengapa kita cenderung menolak kritik adalah karena sebagian dari citra diri kita didasarkan pada pandangan orang lain terhadap diri kita. Kalau kita mengetahui bahwa orang lain memandang rendah kita, maka harga diri kita akan hancur. Dunia terus berputar,orang cenderung bersedia mendengarkan hal-hal yang sesuai dengan pandangannya saja, tetapi menolak gagasan yang bertentangan dengan struktur keyakinannya. Tetapi, bukankah jika kita menyadari bahwa kita telah melakukan kesalahan, secara otomatis kita berusaha memperbaikinya? Apakah kritik begitu mengancam? Memang, untuk bisa mendengar pandangan yang berbeda diperlukan pikiran yang terbuka.

Gender, Citra diri, dan Kritik Riset menunjukan bahwa kemampuan kita dalam menangani kritik sering terkait dengan tingkat kepercayaan diri kita. Pria dan wanita pada usia antara 18 tahun hingga 34 tahun jauh lebih sensitif terhadap kritik karena mereka masih dalam proses pengembangan identitas atau jati diri. Ungkapan ”wanita cenderung memasukan ke hati” secara umum cenderung benar. Deborah Tannen,Ph.D., dalam bukunya You Just Don’t Understand, menjelaskan bagaimana pria dan wanita memandang komunikasi secara berbeda. Penilitian tersebut menunjukan terdapat perbedaan nyata mengenai cara pria dan wanita menghadapi kritikan.

Pendekatan Pria Tannen menemukan bahwa pada dasarnya pria dan wanita berkomunikasi untuk alasan berbeda. Tujuan pria dalam berkomunikasi adalah untuk membangun independensi dan status. Oleh karena itu, mereka berbicara dalam bentuk laporan, menyampaikan statistik dan fakta. Dalam percakapan, secara terus menerus mereka mencari informasi yang akan membantunya dalam membangun independensi dan/atau status. Pria ingin menjadi pusat perhatian dengan cara menyampaikan lelucon atau mengesankan orang lain dengan pengetahuannya. Mereka membuktikan dirinya dengan tampilan verbal. Ketika ada kritik yang menimpanya, pria tidak akan menyukainya karena berarti merendahkan status dan independensinya. Meskipun demikian,jika anda mengkritik seorang pria dengan menggunakan contoh spesifik dan fakta,dia akan menghadapinya dan menerimanya – karena dia memahami bahwa contoh dan fakta tersebut bisa membantunya untuk menjadi lebih efektif.

Pendekatan Wanita Sebaliknya, wanita sering tumbuh dalam konsep yang keliru bahwa kalau ada kritik berarti ada sesuatu yang keliru dalam dirinya. Dalampenelitiannya, Tannen menemukan tujuan wanita dalam berkomunikasi adalah untuk membangun hubungan dan keintiman. Wanita menikmati hubungan yang baik dan berinteraksi dengan orang lain.oleh karena itu, ketika wanita dikritik, mereka merasa hubungan ini muncul dalam bentuk ”peang dingin” – wanita merasa terluka dan dia tidak ingin berbicara dengan pengkritik atau siapa pun yang terkait dengan pengkritik. Reaksi ”perang dingin” sangat sulit dipahami oleh pria. Seorang pria bisa saja berkonflik dengan pri lain pada pukul 10 pagi dan makan siang bersama pada siang harinya. Perilaku ini tidak bisa diterima oleh kebanyakan wanita. Karena merasa terluka perasaannya, maka mereka membutuhkan waktu beberapa lama untuk membangun kembali hubungan yang telah rusak. Namun, anda tidak perlu memberi kritik kepada wanita hanya karena reaksi yang ”khas” ini. Baik pria maupun wanita sama-sama membutuhkan kritik agar bisa berkembang. Namun demikian,harus dipahami bahwa wanita cenderung lebih sensitif dibanding pria. Wanita harus lebih memahami bahwa kritik tidak sinonim dengan ketidaksetujuan. Pada akhirnya, wanita bersedia juga untuk membicarakan situasi yang menjadi pangkal kritik terhadap dirinya dan membangun kembali hubungan. Tetapi,”waktu yang tepat” untuk melakukan ini biasanya harus mengikuti pengertian mereka. Wanita juga cenderung peka terhadap tanda-tanda nonverbal dan bisa segera ”merasakan” jika ada sesuatu yang tidak beres. Sebaliknya, pria terkadang mengabaikan tanda-tanda nonverbal sebelum situasinya memburuk.

Mengubah Keyakinan Anda Terhadap Kritik Mari kita lihat keyakinan anda terhadap kritik. Jika anda percaya bahwa semua kritik adalah negatif dan dengan adanya kritik berarti anda gagal. Maka apabila anda menerima kritik, hasilnya adalah penolakan terhadap diri sendiri dan kemampuan anda. Akibat berikutnya adalah anda tidak bisa bergerak maju, tidak tumbuh berkembang. Dengan sikap seperti itu, anda menjadi stagnan, tidak pernah berhasil menerobos tembok keliling yang mengurung anda. Dalam lingkungan yang berkembang cepat saat ini, kemampuan beradaptasi, berubah, dan tumbuh dengan memanfaatkan umpan balik menjadi sangat penting. Definisi kita terhadap istilah ketololan adalah ”melakukan hal yang sama berkali-kali, tetapi mengharapkan hasilyang berbeda”. Anda tidak bisa duduk diam dan berharap bisa mempertahankan posisi anda,apalagi tumbuh. Saat ini, belajar seumur hidup sudah menjadi keharusan, dan kritik adalah kunci kita untuk tumbuh dan berkembang. Anda harus belajar menerima dan menyambut kritik sebagai sarana untuk belajar. Jika anda bisa mengubah cara pandang anda terhadap krtik, maka tekanan akibat kritik juga menjadi lebih ringan. Pada akhirnya, anda bebas untuk menerima atau menolak kritik yang datang. Ironisnya, semakin anda menolak kritik, kritik tersebut semakin menjadi masalah. Semakin anda menerima kritik berikut ketidak-terhindaranya, semakin mudah anda memanfaatkannya untuk membangun keunggulan anda. Cara lain untuk menjelaskan dampak dari keyakinan kita adalah dengan menilai percakapan diri kita. Percakapan diri adalah suatu istilah untukmenjelaskan arus pemikiran sadar (keyakinan) yang mencerminkan sikap kita terhadap suatu peristiwa dalam kehidupan kita. Percakapan diri dan keyakinan kita terwujud menjadi kenyataan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengontrol ucapan-ucapan kita pada diri kita sendiri. Percakapan diri yang negatif berkontribusi terhadap perasaan kita yang diserang dan dikalahkan oleh pengkritik kita. Jika kita membolehkan orang lain menentukan perasaan kita terhadap diri kita sendiri, berarti kita memberinya kekuasan untuk mengendalikan reaksi kita terhadap diri kita. Padahal kita memiliki kontrol yang lengkap terhadap makna yang kita berikan terhadap kritik, dan oleh karena itu, menentukan juga teradap cara kita merespon kritik.

Menanggapi Kritik Kajian Simon/ Bright mengenai kritik menemukan bahwa kemungkinan besar kita akan marah apabila kritik datang dari keluarga pasangan kita (24%), pasangan (22%), dan bawahan (21%). Namun, kita bisa menanggapinya dengan baik jika kritik datang dari Guru, teman, ayah, atau atasan. Yang menarik, kita merasa sangat penting untuk melakukan tindakan koreksi apabila kritik disampaikan oleh atasan (72%) dan pasangan (62%), tetapi menganggap tidak perlu melakukan tindakan koreksi apabila kritik disampaikan oleh saudara dari pasangan kita atau dari saudara-saudara sekandung kita. Berkaitan dengan hasil tersebut, kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh mengubah perilaku kita apabila dikritik oleh atasan (61%) dan pasangan hidup (54%). Kita akan amat tersinggung oleh kritik yang mempertanyakan integritas kita (85%) dan mengenai kinerj pekerjaan kita (74%). Ditemukan, ternyata wanita lebih sensitif dalam bereaksi terhadap kritik dibanding pria. Sering terjadi, kesulitan dalam menangani kritik karena ternyata, paling tidak sebagian, kritik tersebut mengandung kebenaran. Jika kritik tersebut benar-benar keliru, mungkin tidak akan menyulitkan kita. Meskipun demikian, walaupun disampaikan secara buruk, kritik akan memaksa kita untuk memeriksa perilaku kita dan menarik beberapa kesimpulan.

Jenis Kritik Pada dasarnya terdapat tiga jenis kritik yang kita terima: (1) kritikvalid, bona fide, (2) kritik yang tidak valid, tidak berdasar, (3) kritik yang tidak jelas atau sekedarperbedaan pendapat.

1.kritik VALID merupakan kritik yang paling sulit untuk kita tangani, karena dalam beberapa hal kita mengakui kebenarannya. Namun demikian, ada kecenderungan kita merespon kritik yang valid ini secara berlebihan, dan menganggapnya lebih penting dari yang seharusnya. Sebenarnya kita harus bisa menerima diri kita, termasuk ketika melakukan kesalahan. Kita harus ingat bahwa semakin kita aktif dan semakin banyak yang kita lakukan, maka semakin besar kemungkinan kita akan membuat kesalahan, dan karenanya akan mendapat kritik. Sementara tidak melakukan tindakan hanya karena ingin menghindari berbuat salah merupakan alternatif pengecut dan tidak produktif.

2.kritik TIDAK BERDASAR, atau tidak valid, muncul karena perilaku kita tidak sesuai dengan harapan orang lain. Orang sering tidak mengkomunikasikan harapannya sehingga besar kemungkinan kita untuk mengecewakan mereka. Tetapi,ini adalah kesalahan mereka, bukan kesalahan kita. Selain itu, agar kritikbisa benar-benar bermanfaat, harus diungkapkan secara spesifik, dengan istilah yang kongkret, sehingga kita bisa memahami harapannya dan mengambil tindakan yang tepat jika kita memilih untuk mengambil tindakan. Dr. Hendrie Weisinger,penulis buku Nobody’s Perfect (Statford Press, 1981) menyarankan agar anda mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri apakah kritik tersebut valid atau tidak valid. Apakah saya mendengar umpan balik sama yang datang lebih dari satu orang? Apakah pemberi kritik mengetahui persis mengenai pkok persoalannya? Apakah standar yang dimiliki oleh pengkritik diketahui dan masuk akal? Apakah kritik yang disampaikan benar-benar berkaitan dengan diri kita? Atau kritik tersebut muncul karena pengkritik sedang kesal atau kecewa karena suatu hal lain yang tidak ada kaitannya dengan kita? Seberapa pentingkah bagi saya untuk menanggapi kritik tersebut?

3.jenis kritik ketiga adalah KRITIK YANG TIDAK JELAS atau kritik yang hanya sekedar menunjukan adanya perbedaan pendapat. Pada jenis kritik ini, pengkritik adakah orang yang beranggapan bahwa mereka memiliki nilai dan metode yang lebih baik dibanding dengan nilai dan metode yang anda miliki. Kritik semacam ini sering sangat efektif untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya, seperti rasa cemburu, takut terhadap sesuatu yang tidak dikenal, rasa tidak aman, arogansi, atau bahkan keinginan untuk menunjukan kewibaan diri seseorang. Tetapi, sebagaimana terhadap kritik jenis lain, kritik jenis ini penting untuk kita hadapi karena kemungkinan pengkritik memang memiliki perasaan yang harus kita perhitungkan.pendek kata, jenis kritik ini mungkin lebih berkaitan dengan pengkritik daripada dengan kita.

Tiga Tahap Merespon Kritik Ketika menerima kritik, begitu kritik disampaikan, sangat penting untuk menyadari bahwa kita lebih banyak memiliki kontrol dibanding pengkritiknya. Selanjutnya terserah anda, apakah kritik tersebut menurut anda perlu dan bermanfaat untuk di tindaklanjuti. Pada dasarnya terdapat tiga tahap yang kita lalui ketika menghadapi kritik

TAHAP SATU: Menyadari Dalam tahap MENYADARI, kita mengetahui bahwa kita sedang dikritik dan dengan segera insting kita mengambil alih. Kita mungkin segera melakukan serangan balik, mengambil tindakan defensif, atau menjadi korban tak berdaya yang secara otomatis menerima nilai pengkritik begitu saja. Serangan Balik Ketika memberi serangan balik kepada pengkritik, kita sering menggunakan sarkasme, meruntuhkan keberaniannya, atau dengan sindiran.terkadang kita benar-benar ”bersemangat” dalam melakukan serangan balik dengan sarkasme,sehingga apabila kita memiliki audiens,kita akan disambut dengan tawaan. Pelawak atau kartunis banyak menggunakan sarkasme karena dengan sarkasmelah mereka menjadi lucu. Sarkasme merupakan istilah dari bahasa latin yang artinya ”merobek-robek”. Ini merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan perasaan orang yang terkena serangan sarkasme. Sarkasme sering mematikan,dan ini tentu saj bukan merupakan cara bereaksi yang tepat untuk menghadapi kritik. Menyerang dengan meruntuhkan kepercayaan diri pengkritik menunjukan bahwa anda tidak berniat membangun hubungan,tetapi hanya berupaya agar pengkritik kehilangan keberanian atau kepercayaan diri. Cara ini menghapus suasana dimana anda bisa terus berbicara dengan dengan pengkritik secara nyaman. Demikian pulapengkritik, tidak bisa berbicara secara nyaman dengan anda. Ketika kita melakukan serangan balik kepada pengkritik yang agresif, mungkin kita merasa tidak mempengaruhi orang tersebut.namun, sebenarnya serangan kita menghujam lebih dalam dari yang kita duga. Sering, orang yang mengkritik kita sebenarnya merasa tidak aman. Korban Tidak Berdaya Respon sebagai ”korban tidak berdaya”, atau reaksi pasif, juga tidak banyak membantu. Jika anda tidak mengucapkan sepatah kata pun atau menerima kritik sebagai kritik yang sah tanpa menilainya lebih dahulu, anda akan nampak seperti tidak memiliki kepercayaan diri dan kehilangan penghargaan dari orang lain dan dari diri sendiri! Kedua, kemungkinan anda tidak akan benar-benar mengetahui apa yang dimaksudkan sesungguhnya oleh pengkritik, kecuali jika anda meluangkan waktu untuk menilai kritik tersebut. Pendekatan yang jauh lebih baik untuk menghadapi kritik adalah dengan menyadari bahwa kita sedang dikritik, itu saja – baru dengan cepat bergerak untuk menilai kritik tersebut.

TAHAP DUA: Menilai Pada tahap kedua, anda MENILAI kritik yang disampaikan,maksud dari pengkritik, dan seberapavalidkah kritik tersebut. Untuk menentukan apakah kritik tersebut valid atau tidak, perhatikan pula perilaku nonverbal pengkritik. Anda bisa menghentikan intensitas perasaannya dan seberapa terbuka dia untuk menghadapi tindakan yang akan anda ambil. Selidiki fakta yang berkaitan dengan kritik yang disampaikan untuk memastikan bahwa anda benar-benar memahami ucapan dan maksud dari pengkritik. Untuk melakukan klarifikasi, ajukan pertanyaan berikut ini Apa sebenarnya yang telah terjadi? Kapan hal tersebut terjadi? Apa yang telah keliru? Penting juga, anda berusaha untuk mendapat kritik. Anda harus menjelaskan kritik apa yang ingin anda peroleh untuk dinilai dan dengan cara seperti apa anda ingin menerimanya. Karena anda bisa mengontrol kritik tersebut, maka kemungkinan besar kritik tersebut bermanfaat untuk mencapai perbaikan dalam kinerja anda. Setelah meneliti fakta, berusahalah untuk mempertimbangkan apakah kritik tersebut akurat atau tidak. Luangkan waktu untuk berpikir sebelum anda memberi respon. Berusahalah jujur, tetaplah tenang dan fokuskan pada hasil, pertimbangkan respon anda sebelum berbicara.

TAHAP TIGA: Bertindak Pada tahap akhir, anda memutuskan TINDAKAN apa, jika memamng harus ada tindakan yang ingin anda ambil terhadap kritik tersebut. Mari kita pelajari strategi BERTINDAK untuk menghadapi kritik secara asertif.

BUKAN WAKTUNYA UNTUK MEMBERI KRITIK Ketika anda memutuskan bentuk kritik yang akan digunakan, harus diingat bahwa ada saatnya anda tidak memberi kritik. 1.jangan memberi kritik ketika anda sedang marah, tertekan, atau tersinggung. 2.jangan memberi kritik ketika waktunya tidak tepat bagi penerima, atau ketika penerima kriritk tidak bisa melakukan apa-apa terhadapkritik tersebut. 3.jangan memberi kritik ketika anda tidak memiliki fakta atau bukti spesifik untuk mendukung kritikan anda. 4.jangan memberi kritik untuk melakukan permainan kekuasaan –untuk meruntuhkan kepercayaan diri penerima atau untuk menunjukan bahwa diri anda penting. 5.jangan mengharapkan hasil dari kritik anda jika anda belum menetapkan tujuan atau harapan bersama.

Hathaway, Patti. (2001). Giving And Receiving Feedback. CV Teruna Medika. Schubert, Susan. (2001). Memanajemeni Atasan. PPM, Jakarta.
Selengkapnya

Followers

About me